Pengalaman Pertama Naik Batik Air


Selasa 11 Maret 2014 kemarin, untuk pertama kalinya saya naik pesawat Batik Air dari Jakarta menuju Surabaya, Padahal biasanya selama ini kalo saya ke Jakarta dan baliknya ke Surabaya saya selalu naik Citilink, Kemarin waktu berangkatnya ke Jakarta pun naik Citilink, dan balik ke Surabaya nya baru naik Batik Air, karena kebetulan tiket Batik Air lebih murah dari citilink, soalnya lagi promo.

Batik Air ini kalo di bandara Soekarno Hatta, ada di terminal 3, terminal yang paling baru. Sore itu sebenernya kondisi terminal Soetta tidak terlalu rame, banyak warga asing nya, yang terdiri dari beberapa etnis, bule, asia, india, arab, afrika. setelah masuk terminal, ke counter check in dulu, untuk bagasikan barang bawaan lalu saya langsung diajak sama bos menuju Starbuck, lagi-lagi disini dipenuhi warga asing.





Karena waktu masih sekitar 1 jam-an lagi, saya sama bos di ajak ke lounge De Green dulu sebentar, ambil sedikit nasi goreng plus minuman kaleng dingin di lanjut makan roti, ngemil kacang sama minum teh, karena gak ada panggilan dari operator, kami pun sudahi makan-makan di lounge de green dan beranjak menuju ruang tunggu penumpang. Padahal untuk penerbangan lain, sudah melakukan panggilan berkali kali.

Akhirnya kami bergegas menuju ke ruang tunggu penumpang, tapi sebelumnya bayar dulu airport tax Rp.40.000,- per orang. Ternyata, di ruang tunggu sudah sepi, kata petugasnya, semua udah naik pesawat, gila, padahal masih sekitar 40 menitan lagi jadwal take off nya sesuai yang tercetak di ticket, akhirnya kami pun berlari menuju pesawat, yang juaaaaaauuuhhh nya minta ampun, pake banget, setelah nyampe pesawat, ternyata bener, semua penumpang sudah naik. tidak seperti biasanya, yang ada pengumuman dulu dari speaker, baru kita di perbolehkan naik pesawat.




Setelah dapat tempat duduk, mata pun mulai berputar ke sekeliling, sepertinya pesawatnya baru, entah beneran baru atau hanya bersih aja, atau hanya saya saja yang ndeso. Di tiap kursi, sudah ada LCD touchscreen nya, yang berisi berbagai informasi dan Film, untuk informasinya saya lebih tertarik ke GPS nya, jadi kita tahu kita sudah ada di atas kota mana saat ini. Sedangkan untuk film, saya tertarik dengan film mandarin dengan subtitle bahasa inggris, soalnya film yang lain pake subtitle bahasa antah berantah he..he..he..., ada juga film Indonesia, cuman kalo yang ini saya tidak tertarik, soalnya gak ada suaranya, selain itu film Indonesia nya gak ada yang bagus, kalo mau denger suaranya, harus beli headphone di awak kabin pesawat. earphone pun di komersilkan he..he..he....

Naik Batik Air memang lebih enak, dan nyaman, jarak antar kursi dengan kursi depannya terasa longgar, jadi kaki bisa bebas bergerak. Setelah menunggu sekitar 30 menit-an di dalam pesawat, lampu pun dipadamkan, seketika itu semua LCD ikut mati, lalu nyala kembali, menampilkan intruksi prosedur keselamatan penumpang dalam penerbangan, yang biasanya di peragakan langsung oleh pramugari, tapi kali ini disajikan dalam info yang ada di LCD. Padahal hal ini sudah lumrah dalam penerbangan internasional, karena saya aja yang belum pernah ke luar negeri, jadinya gak tahu he..he..he... dan merasa paling udik di pesawat itu.

Akhirnya, setelah pesawat lepas landas dengan ketinggian sekian ribu kaki, snack pun dibagikan, lumayan dapat air mineral dan roti, walaupun udah kenyang karena sebelumnya udah makan nasih goreng dan roti di lounge De Green, tapi tetep aja dimakan roti ini he..he..he..., selama perjalan ke Surabaya, saya hanya liat film mandarin dengan subtitle bahasa inggris, dan sesekali cek lokasi pesawat saat ini sudah sampai mana dengan GPS yang ada di LCD.

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 1 jam, akhirnya pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Internasional Juanda Surabaya Di Sidoarjo, dan sepertinya di bandara Juanda habis di guyur hujan lebat. Secara keseluruhan, saya sangat puas dengan naik pesawat Batik Air ini.

Setelah ambil bagasi, saya pun pesen ticket di counter Prima Taksi Juanda untuk mengantar saya pulang, untuk Prima Taksi di kenakan tarif zona, untuk lokasi saya dikenakan biaya Rp.140.000,- sama tarif tol nya Rp.10.500,- jadi total Rp.150.500,- selama ini saya selalu menggunakan Prima Taksi karena merasa aman, walaupun tarif sedikit lebih mahal.

2 comments:

  1. Nanggung... kalau masih ada budget, nambah dikit, mending naik Garuda.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya bener sekali gan, tapi tetep aja pengen nyoba naik batik.

      Sesuatu yang baru emang perlu dicoba dulu he.he.he.

      Delete